Budaya literasi untuk kehidupan

Share!

SELUSUR.ID – Dalam sejarah peradaban manusia, kemajuan suatu bangsa tidak bisa dibangun dengan hanya bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan. Tetapi juga dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kendati begitu, penguasaan literasi yang tinggi tentunya tidak mengabaikan aspek sosialkultural, karena literasi tersebut merupakan bagian dari kultur atau budaya manusia. Hubungan literasi dengan komunikasi memiliki korelasi yang sangat kuat . Bahkam Kern (2000) menyatakan literacy involves communication (literasi melibatkan komunikasi).

Literasi yang mencakup dua hal yaitu keaksaraan dan kewicaraan atau lisan dan tulisan, tentunya merupakan bagian dari budaya manusia untuk berkomunikasi antara satu sama lain dalam upaya mencapai tujuan-tujuan hidup.

Dengan penguasaan literasi yang baik atau sesuai dengan sosialkultural , manusia dapat berkomunikasi dengan baik pula agar literasi dapat dikuasai secara maksimal sehingga membantu manusia mencapai  tujuan-tujuanya.

Apakah itu pendidikan literasi ? Bagaimana pendidikan listerasi itu dilaksanakan?

Secara sederhana, literasia atau literer istilah lain dari melek huruf secara fungsional adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Balai Pustaka, yang dimaksudkan dengan literer adalah (sesuatu yang) berhubungan dengan tulis menulis. Dalam konteks kekinian literasi atau literer memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikir kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Dalam paradigma berpikir modern, Literasi juga bisa diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena sosial dengan huruf dan tulisan.

Kirsch dan Jungeblut (1993) dalam bukunya Literacy: Profiles of America’s Young Adults mendenifisikan literasi konteporer sebagai kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas.

Pada masa Socrates, misalnya para siswa Yunani (Kota lahirnya para filsuf), diperkenalkan dengan budaya membaca. Hal ini membuktikan bahwa budaya literasi bagi segenap elemen bangsa merupakan faktor penentu kemajuan yang paling signifikan.

Berdasarkan konteks pengunaannya Baynham (1995) menyatakan bahwa literasi merupakan intergrasi keterampilan menyimak, berbicara, menulis, membaca dan berpikir kritis. Maka hal itu terkait dengan kemampuan bahasa seseorang. Bahasa itu sendiri sangat erat dan tidak dapat dipisahkan hubungannya dengan budaya. Kehidupan yang bermutu tentulah hidup yang memiliki budaya literasi yang baik.

Tingginya tingkat literasi seseorang akan menjadikan seseorang mampu melakukan fungsi-fungsinya didalam kehidupan. Hal itu terlihat dari kemampuan seseorang dalam berbicara, memahami sebuah informasi dengan baik sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi didalam hidup. Dengan demikian berarti seseorang belajar mengembangkan potensi dalam dirinya untuk mencapai tujuan hidup.

Setiap orang adalah makhluk sosial  

Mahkluk sosial memerlukan keterampilan berbahasa dalam melakukan fungsinya di tengah masyarakat. Untuk itu, kemampuan literasi sangat penting dan menjadi bekal diterimanya seseorang di tengah masyarakat itu sendiri.

Tingginya tingkat literasi seseorang terlihat dari sejauh mana keluwesannya dalam berinteraksi dan bekerja sama di dalam lembaga sosial yang ada di masyarakat.

Peran literasi di dunia pendidikan juga sangat besar. Semakin tinggi tingkat literasi pelajar maka akan semakin tinggi pula tingkat mutu pendidikannya. Hal ini terlihat dari perbedaan siswa yang di kelasnya hanya mendapatkan pembelajaran lewat metode ceramah dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui metode problem solving, diskusi atau praktek langsung.

Misalnya ketika guru hanya mengajarkan apa itu pidato, seperti apa susunan dan teknik yang baik dalam berpidato melalui ceramah saja, tentu akan berbeda jika guru mengajak siswa mengalami langsung seperti apa dan bagaimana berpidato di depan kelas.

Literasi siswa yang dibimbing langsung jauh lebih baik dibandingkan dengan siswa yang hanya mendapatkan ilmu secara teoritis saja. Siswa praktek langsung mengalami proses menyimak, membaca, menulis, berbicara dan berfikir kritis.

Hal ini sejalan dengan ungkapan Magnessen (dalam Silberman, 1996) bahwa “Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.”

Mengutip laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan Study IEA (International Association for the Evaluation of Education Achicievement), di Asia Timur tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7 dibawah Filipina (skor 52,6), Thailand (skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong (skor 75,5).

Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Data lain juga menyebutkan (UNDP) dalam Human Report 2000, bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan Negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman dan Amerika Serikat umumnya sudah mencapai 99,0 persen.

Dari data tersebut diatas sudah saatnya Indonesia mulai bangkit berjuang menuju bangsa yang maju, yang tingkat membaca dan menulisnya tinggi. Untuk itu, saya mulai dari diri sendiri, saat ini untuk membaca dan menulis apa saja. Salam Literasi.


Share!
Beri Donasi
Bertarung di negeri orang tak membuatnya kehilangan jati diri. Terus bertanya untuk menjawab setiap gelisahnya.
Back To Top