Melihat Solusi Pemenuhan Kuota Hasil Pertanian Kotamobagu di Tengah Menyempitnya Lahan

Selusur.id
Share!

SELUSUR.ID – Kotamobagu adalah kota yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2007, pada tanggal 2 Januari 2007. Dipersiapkan menjadi calon Ibukota Provinsi Bolaang Mongondow Raya (BMR), awalnya Kotamobagu memiliki sumber pendapatan utama berupa hasil pertanian, yaitu padi dan jagung.

Seiring perkembangannya, Kotamobagu yang menjadi pusat perputaran ekonomi di BMR, mulai mengalami peralih-fungsian lahan. Banyak lahan pertanian berubah menjadi permukiman. Keadan ini juga turut berdampak pada Jumlah Rumah Tangga Petani (RTP).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kotamobagu, RTP di Kotamobagu mengalami penurunan signifikan dari 10.890 jiwa menjadi 8.289 jiwa.

“Karna Sensus Pertanian itu 10 tahun sekali, jadi kita masih mengacu pada data tahun 2003 sampai 2013. Data ini akan berlaku sampai pada 2023,” kata Staf Integrasi Pengolah Data, Jamila Akuba, beberapa pekan lalu.

Dari data Jumlah RPT di Kotamobagu tahun 2003 sampai 2013, tercatat RTP Kecamatan Kotamobagu Selatan dari 3.667 menjadi 3.187, Kecamatan Kotamobagu Timur dari 3.001 menjadi 2.172, sementara untuk Kecamatan Kotamobagu Barat dari 2.145 menjadi 1.237, dan terakhir Kecamatan Kotamobagu Utara dari  2.077  menjadi 1.693. Kesemua itu terus mengalami penurunan hingga saat ini.

Perbedaan peta kondisi Kotamobagu tahun 2003 dengan tahun 2020. Sumber foto: Capture dari Google Eart versi desktop pada Rabu, (11/03/2020, pukul 11.00 Wita.

Selain itu, berdasarkan data yang berhasil dihimpun, Kotamobagu yang dulunya memiliki potensi hasil tanaman pangan dengan luas terbesarnya padi, dengan lahan panen sekitar 56,66% dari total luas panen tanaman pangan sekitar 8.094 Ha, yang kemudian diikuti jagung dengan luas panen sekitar 54.572 Ha ini, perlahan berubah menjadi kota yang mulai bergerak di sektor jasa.

Berbagai layanan potensi untuk sektor jasa mulai dipromosikan. Termasuk dengan upaya pemerintah kotanya untuk meningkatkan jumlah investasi. Tak ayal semua ini kemudian mengubah wajah Kotamobagu perlahan.

Strategi menarik investor mulai berbuah. Jumlah investasi di Kotamobagu terus mengalami peningkatan, bahkan pada masa pandemi Covid-19. Tercatat, nilai investasi yang masuk sejak bulan Januari 2020, sudah mencapai Rp47.392.117.750.

”Hingga Juni kemarin, nilai investasi yang masuk di Kota Kotamobagu Rp 47.393.117.750, jika dihitung hingga hari ini sebesar Rp 52.466.417.750,” ungkap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMTSP) Kotamobagu, Noval Manoppo, Rabu (22/07/2020).

Menurut Noval, bukan tidak mungkin nilai investasi di Kotamobagu akan terus meningkat hingga akhir tahun ini.

“Progressnya semakin naik. Untuk jumlah investor yang menanamkan modalnya hingga hari ini sudah sebanyak 141, Mudah-mudahan jumlah tersebut akan semakin meningkat,” terangnya.

Hasil pertanian dijual di Pasar Kotamobagu. (Foto: Ronny A. Buol)

Berbanding terbalik, perubahan orientasi ini justru membuat produksi sektor pertanian Kotamobagu mulai menurun. Untuk memenuhi kuota kebutuhan bahan hasil pertaniannya, Kotamobagu harus mengandalkan daerah tetangga, seperti Bolmong dan Minahasa.

Untuk mengantisipasinya, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dianggap menjadi solusi. Pemerintah Kota tak henti mengingatkan masyarakatnya, untuk menjadikan pekarangan rumah sebagai sentra produksi tanam pertanian. Bahwa mengecilnya lahan pertanian bukan menjadi satu-satunya alasan untuk tidak bisa memenuhi kebutuhan bahan pangan di dalam rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP), Nurachim Mokoginta, mengatakan, KRPL ini adalah bagian untuk menghindari ketergantungan pasokan bahan pangan dari daerah lain. Mengajak masyarakat Kotamobagu manfaatkan pekarangan untuk dijadikan tempat produksi, menanam kebutuhan rumahtangga.

“Bayangkan saja, kalau digabung semua rumah, berapa banyak hasil produksi rempah, misalnya,” katanya.

Meski demikian, dirinya tak menampik bahwa banyaknya alih fungsi, dari pertanian ke permukiman, sangat berdampak pada ketahanan pangan,  dan menjadi tantangan tersendiri bagi Kotamobagu.

“Tentu, semakin bergerak dan meningkatnya pembangunan, kian memicu hal ini (alihfungsi), namun sebenarnya, ini sudah ada aturannya, tentang lahan tetap pertanian, sesuai SK gubernur. Ini sangat berdampak, ruang terbuka hijau yang akan berkurang. Harus ada sikap tegas pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan, selain kiranya ada kesadaran dari masyarakat dalam mengalihfungsikan lahan,” jelasnya.

Hasil pertanian dijual di Pasar Kotamobagu. (Foto: Ronny A. Buol)

Kenyataan ini, tak membuat semua warga Kotamobagu menyerah. Farid Potabuga, misalnya, pemuda asal Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat ini, terus menginspirasi dengan membentuk kelompok Pemuda Tani. Kelompok ini beranggotakan pemuda-pemuda pasca sarjana yang memiliki keprihatinan terhadap dunia pertanian di Kotamobagu.

Dari kelompok ini, varites buah cokelat Kotamobagu terus dikembangkan, di samping komuditas lain seperti cabe dan jagung, menggunakan teknik olah tani yang lebih modern.

“Saya ingin bilang bahwa, sektor pertanian juga menjanjikan jika dikelolah dengan sumber daya yang baik. Bahwa tidak harus ketika meraih gelar sarjana dan hanya terpusat pada orintasi satu profesi saja,” ujarnya.

Terpisah, sosok lainnya, Iskandar Basol, warga Kelurahan Mogolaing, Kecamatan Kotamobagu Barat, juga berusaha keras menjadikan lahan seluas 1 Ha yang terletak di tengah kota, menjadi salah satu sumber produksi bawang merah.

Bukan tidak mungkin, meninggalkan metode tanam tradisional, Iskandar mulai mempelajari teknik modern dengan menggunakan springker, atau kincir air dan alkon.

Dengan teknik barunya, Iskandar nyaris mampu memenuhi kebutuhan bawang merah di Kotamobagu. Dalam sekali panen, dengan luas lahan tidak seberapa, Iskandar bisa memanen 9 ton bawang merah.

Semangat tinggi inilah yang menjadikan Kepala Bidang tanaman pangan, holtikultura dan perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan (DPP) Kotamobagu Ramjan Mokoginta, kian optimis.

Menurutnya, bukan tidak mungkin, Kotamobagu bisa terus unggul di sektor pertanian meski kenyataan berkurangnya lahan tidak bisa dielakkan. Kotamobagu memiliki kluster komuditas yang tersebar di 4 kecamatan. Yang menonjol adalah bawang merah dan cabe di Kecamatan Kotamobagu Barat dan Utara.

Sentra-sentra bawang merah mulai tersebar di beberapa wilayah seperti, Desa Kobo Kecil, Kelurahan Gogagoman, Mogolaing, Molinow dan Sinindian.

“Gogagoman 1,5 hertare, Mogolaing 1,5 Hektare, serta Molinow 1 Hektare. Jadi, memang bisa dilihat, para petani di Desa Kobo Kecil, mempu memproduksi Bawang merah sebanyak 60 hingga 70 Ton setiap panen,” jelasnya.

Kopi, kemiri, aren, nenas dan banyak lagi komuditas unggulan yang sekarang mulai dikembangkan dan berhasil membawa sektor pertanian Kotamobagu semakin membaik.

Koordinasi terus dilakukan dengan berbagai kelompok pertanian untuk juga terus semangat dan bertahan untuk lebih baik dalam upaya pengelolaan produksi.

Hal ini didukung dengan rencana pemerintah Kotamobagu untuk membuat regulasi untuk pertahanan perkembangan pertanian di Kotamobagu, seperti perda sawah abadi.

“Saat ini sedang digodok untuk menjadi Perda, ini adalah regulasi untuk memproteksi wilayah pertanian di tengah upaya untuk bergerak di sektor jasa,” pungkasnya.

Artikel ini sebelumnya sudah tayang di Totabuan.news


Share!
Beri Donasi
Kegundahan pada kehidupan membuat satu-satunya perempuan di Selusur.id terus menggugat kehidupan. Tapi dengan itu dia terus berkiprah.
Back To Top