Menata Tanjung Dulang jadi pariwisata berkelanjutan

Share!

SELUSUR.ID, BOROKO – Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) saat ini dikenal dengan pariwisata pantai. Kabupaten paling utara di Provinsi Nyiur Melambai ini merupakan daerah pesisir pantai.

Disisi lain Bolmut terus memperkenalkan Batu Pinagut. Ya, Pinagut seakan menjadi icon pariwisata Kabupaten. Ini karena lokasinya dekat dengan Ibukota Kabupaten. Dan sangat dekat jalan trans Sulawesi. 

Miliaran rupiah dikucurkan oleh pemerintah daerah dalam pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana penunjang di Pinagut. Bukan hanya pemerintah daerah. Pinagut juga menjadi objek wisata yang mendapat perhatian dari pemerintah pusat melalui pembiayaan Dana Alokasi Khusus (DAK). 

Keberadaan kawasan Batu Pinagut juga menguntungkan desa sekitar. Melalui Dana Desa (Dandes) berbagai wahana disediakan. Contohnya desa Boroko Timur. Wahana wisata dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Bukan hanya wahana. cafe-cafe juga berada di lokasi ini. Baik milik Bumdes atau perorangan (dengan meminjam lokasi). Pinagut kini jadi sumber ekonomi bagi masyarakat. Dan pinagut menjadi lokasi mata pencaharian di sektor pariwisata.

Data di dinas pariwisata Bolmut menunjukkan dari 13 objek wisata, Batu Pinagut menjadi penyumbang terbanyak kunjungan wisatawan. Menarik memang dari 21.425 jumlah kunjungan wisatawan tahun 2019, Pinagut menyumbang 16.630 kunjungan wisatawan.

Berhasilkah pemerintah daerah? Bagaimana dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) disektor Pariwisata ?

Menata Tanjung Dulang

Jika kita melihat. Bolmut bukan hanya pantai Batu Pinagut. Banyak lokasi pariwisata pantai yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebut saja pantai Tanjung Dulang, Kecamatan Kaidipang. Pantai satu ini memang menarik. Bahkan romantis. 

Pemerintah-pun sudah membangun jalan di lokasi menuju Tanjung Dulang. Aspal sampai ke lokasi. Jelas ini perlu diapresiasi. Ada perhatian. Apakah soal pariwisata atau karena lain halnya.

SUASANA : Pantai Tanjung Dulang, desa Solo, Kecamatan Kaidipang. (Foto: Fandri Mamonto)

Ini menarik. Karena beberapa tahun silam sebelum jalan diaspal seperti sekarang, Tanjung Dulang tetap selalu ramai. Apalagi hari raya idul Fitri. 

Zet Badoa (55) selaku warga desa Solo, Tanjung Dulang sekaligus yang menjaga lokasi wisata mengatakan, jika setiap Sabtu-Minggu pengunjung ke lokasi lumayan banyak.

“Bisa sampai 100 orang. Baik roda dua dan kendaraan mobil,” ungkapnya.

Menurut Zet, kalau hari biasa bukan libur, biasanya hanya beberapa kendaraan motor saja. “Tapi kalau lebaran Idul Fitri pengunjung banyak yang datang,” jelasnya.

Saat ini listrik sudah ada di lokasi wisata Tanjung Dulang. Zet juga mengatakan waktu Idul Fitri banyak pedagang yang berjualan.

“Apalagi jika sudah ada listrik seperti ini pasti malam juga sudah ada yang berjualan,”tuturnya.

Untuk masuk ke lokasi ini pengunjung membayar satu kendaraan mobil Rp5000 dan motor Rp2000. Jelas ini menarik jika dibandingkan dengan lokasi Batu Pinagut yang jika masuk belum dipasang tarif. Masih gratis.

Padahal Batu Pinagut sendiri sudah menjadi ikon pariwisata Bolmut.
Menata Tanjung Dulang tentu masih memiliki pekerjaan rumah. Terutama beberapa fasilitas penunjang penting pariwisata.

Informasi yang didapat, Tanjung Dulang akan ditata kedepannya. Bahkan akan ada kolaborasi pariwisata antara Batu Pinagut dengan Tanjung Dulang. Dimana untuk ke Tanjung Dulang dari Pinagut menggunakan katamaran (perahu lambung kaca) bertolak dari dermaga wisata singgah di pulau Lampu, lihat mangrove dan pulau Damar, lanjut seputaran Dulang melihat keindahan karang dan bisa juga snorkling.

Itulah konsep yang berhasil dihimpun. Bakal menarik memang jika itu terlaksana.  


Share!
Beri Donasi
Tak pernah percaya dengan sodoran angka statistik pemerintah, membuatnya terus mengobok-obok setiap klaim yang dipublikasi.
Back To Top