Seberangi Sungai Gunakan Rakit Demi Program Imunisasi di Tengah Pandemi

Selusur
Share!

SELUSUR.id – Dewi Labindjang, 27 tahun, menggendong bayi dan menuntun balitanya pada Senin, 31 Agustus 2020. Dewi datang ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Goyo yang merupakan naungan dari Puskesmas Ollot, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Sulawesi Utara. Dewi tidak sendirian, dirinya bersama ibu-ibu datang ke Posyandu membawa anak mereka.

Kegiatan Posyandu di Pustu Goyo tetap menerapkan protokol kesehatan. Ibu-ibu memakai masker. Hal yang sama untuk petugasnya memakai masker dan menggunakan hand sanitizer. Melalui pengeras suara  mereka diatur. Yang lain menunggu di luar sebelum dipanggil masuk ke dalam ruangan.

Kegiatan posyandu oleh Puskesmas Ollot di Goyo. (Foto Fandri Mamonto)

Goyo sendiri dulunya merupakan wilayah transmigrasi. Bahkan listrik belum genap setahun masuk. Selain itu untuk mendapatkan jaringan seluler biasanya naik ke atas gunung. Untuk sampai ke lokasi ini petugas kesehatan dari Puskesmas Ollot menggunakan kendaran motor, ada yang saling berboncengan ada pula sendiri, sebelum menyeberangi sungai menggunakan rakit. Biaya menyeberang sampai Rp 3.000 setiap kendaraan bermotor.

Menuju lokasi petugas kesehatan harus menempuh jarak lebih dari lima kilometer, melewati jalan yang belum sepenuhnya diaspal, jalan berbatu dan becek. Resiko alami kecelakan cukup tinggi. Bahkan ban motor bisa bocor.

Salah satu dokter di Puskesmas Ollot saat pergi ke Goyo. (Foto Fandri Mamonto)

Wilayah Goyo setiap bulan menjadi sasaran Posyandu oleh Puskesmas Ollot. Hanya saja sejak pandemi pada April-Mei, kegiatan Posyandu yang berkumpul dihentikan. Dan nanti diadakan pada Juni semenjak memasuki Adaptasi Kebiasan Baru (AKB).

“Tapi itu pun dibatasi hanya 10 orang, yang lain di luar sambil menunggu. Walaupun sudah berkumpul kami tetap menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, menyediakan tempat cuci tangan,” kata Kepala Puskesmas Ollot Juni Djenaan.

Selama pandemi pihaknya tidak melaksanakan kegiatan Posyandu berkumpul. Penyuntikan tetap dilaksanakan ke rumah-rumah warga yang mempunyai bayi dan balita.

Juni mengatakan imunisasi  dasar dan lanjutan tetap berjalan baik untuk melayani 23 balita dan empat bayi di wilayah Goyo yang terpencil.

“Walaupun medan jalan seperti ini kami tetap memberikan pelayanan  kepada bayi dan balita,”kata Juni.

Sementara itu bagi Karmila Pansur, 32 tahun, anak diimunisasi sangat penting untuk kesehatannya.

“Hal ini agar anak saya tidak mudah terkena penyakit, selama ini alhamdulillah selama Covid-19 tidak pernah terkena sakit,” ungkapnya pada 26 Agustus 2020.

Karmila Mansur saat diwawancarai di rumahnya di Desa Boroko Timur, Kecamatan Kaidipang. (Foto Fandri Mamonto)

“Selama Covid-19 anak saya dibawa langsung ke Puskesmas untuk ikut Posyandu,” tambahnya.

Menurut Karmila, dirinya sudah lima kali  mengikuti Posyandu, tapi aktivitas saat ini kegiatan posyandu sudah seperti biasa.

“Demi kesehatan anak. Saya tetap memberikan ASI menyusui, walaupun situasi Covid-19,” katanya sambil memeluk bayinya.

Hal yang sama dilakukan Fadlun Walahe, 25 tahun, yang memiliki anak berusia 21 bulan yang membuatnya tetap mengikuti kegiatan Posyandu.

“Biasanya Posyandu dikumpulkan satu kali, tapi selama pandemi Covid-19 sudah tidak lagi. Dan saya tetap membawa anak ke Posyandu,” jelasnya.

Fadlun Walahe saat diwawancarai di desa Boroko, Kecamatan Kaidipang. (Foto Fandri Mamonto)

Fadlun menuturkan jika anaknya sudah diimunisasi. Baginya Posyandu penting untuk kesehatan.

“Kader Posyandu di desa juga kami aktif, biasanya kalau tidak dihubungi melalui handphone disampaikan pengumuman di mesjid untuk jadwal posyandu,” tuturnya.

Sementara itu Wakil Supervisor (Wasor) Imunisasi Dinas Kesehatan Bolmut Moh. Isal Kadir mengatakan cakupan bayi yang diimunisasi di Kabupaten Bolmut masih dibawah target.

“Pada tahun 2020 ini ada 1.400 sasaran bayi yang harus diimunisasi. Terhitung dari kelahiran April 2019 sampai Maret 2020,” ujarnya Senin 24 Agustus.

Menurut Anto data tersebut merupakan data dari pemerintah pusat. Pihaknya sedang menyesuaikan data dengan yang ada di lapangan.

“Untuk saat ini data lengkap belum masuk dari beberapa Puskesmas terkait bayi yang akan diimunisasi di Kabupaten Bolmut,” ungkapnya.

Persentase imunisasi turun ini membuat pihaknya mengambil langkah melakukan sweeping imunisasi.

“Langkah ini diambil agar cakupan imunisasi di Kabupaten Bolmut tercapai,” tuturnya.

“Sampai Juni ada 554 bayi yang sudah terimunisasi, kami akan mengambil langkah dengan swiping imunisasi,” tegasnya.

Posyandu di Puskesmas Selama Pandemi

Kepala Puskesmas Bolangitang, Kecamatan Bolangitang Barat Latifah Talibo SKM menuturkan, selama pandemi dirinya menuturkan telah membagikan jadwal imunisasi per desa.

“Yang datang bisa sampai tiga hingga 10 bayi yang dilakukan imunisasi dasar,” ujarnya.

Pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan kepada orang tua, termasuk tetap memakai APD yang disediakan oleh Dinas Kesehatan Bolmut.

“Terkait Posyandu sempat ada kendala saat petugas Puskesmas memakai APD lengkap,” kata Talibo.

“Dimana mereka takut dikira akan menjemput terkait Covid-19. Tapi kami jelaskan kepada mereka bahwa ini dalam rangka Posyandu,” ujar Latifah.

Kegiatan imunisasi di Puskesmas Buko. Kecamatan Pinogaluman. (Foto Puskesmas Buko)

Terpisah Kepala Puskesmas Buko, Kecamatan Pinogaluman, Zulkifli Masuara mengatakan imunisasi di wilayah kerjanya tetap jalan.

“Dengan bayi balita dibawa ke puskesmas. Dan tetap mematuhi protokol kesehatan terkait. Pada April lalu ada 39 bayi yang kami lakukan imunisasi di Puskesmas,” tambahnya.

Perhatikan Gizi Anak di Bolmut

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bolmut Ali Dumbela mengatakan selama pandemi Covid 19 dalam memperhatikan gizi, pihaknya melakukan kunjungan ke rumah.

“Kegiatan imunisasi dilakukan, termasuk menimbang berat badan bayi,” ujarnya.

Menurutnya berdasarkan aplikasi pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat e-PPGBM ada 5.300 bayi dan balita yang tercatat dalam aplikasi tersebut terkait status gizi.

“Angka tersebut termasuk stunting, sehingga kami memberikan susu formula tambahan,” jelasnya.

Menurutnya, selama pandemi Covid-19 pihaknya juga menyediakan rumah singgah. Salah satu fungsi rumah singgah ini adalah menjaga orang tua, lebih khusus ibu dari balita untuk bertemu langsung.

“Di rumah singgah ini kami lakukan pemeriksaan beberapa hari,” ungkapnya.

Alasan menyediakan rumah singgah ini karena banyak dari orang tua perempuan bekerja di Kota Manado.

“Dan beberapa Kota lainnya di Sulut dan Gorontalo yang memiliki kasus Covid-19 yang cukup tinggi,” katanya.

Sementara itu UPTD Pusat Pemulihan Gizi di Kabupaten Bolmut mencatat melalui skrining ukur antoropometerinya ada 10 bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan ada 108 bayi dan balita Bawah Garis Merah (BGM) yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Bolmut.

Kepala UPTD TFC Bolmut Barkah Subadrah mengatakan bayi dan balita BGM jika tidak ditangani sejak dini akan memiliki dampak.

“Misalnya intelegensia dan daya tahun tubuh, imunitas rendah, sehingga mudah terserang penyakit, hal yang sama bagi bayi BBLR,”ujarnya.

Dari temuan tersebut, rata-rata ibu dari balita tersebut kurang memiliki pengetahuan pola asuh bagi pertumbuhan dan perkembangan bayinya.

“Saat ini kami tetap menyediakan susu untuk penanggulangan gizi buruk dan untuk kebutuhan nutrisi yang diperlukan bagi balita yang bermasalah gizi,” tuturnya.

Pantau Gizi Anak Dengan  Aplikasi e-HDW

Pada Juni 2020 Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) dan Pendamping Desa di Kabupaten Bolmut mensosialisasikan aplikasi e-HDW ke desa-desa dengan cara dikumpulkan langsung di kantor kecamatan.

Aplikasi ini berbasis android dalam membantu Pemerintah Desa untuk melakukan pendataan 1.000 hari pertama kehidupan dan pencegahan stunting.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Bolmut Fadly Usup mengatakan selama pandemi Covid-19 pihaknya sudah mensosialisasikan aplikasi e-HDW kepada Pemerintah Desa dalam melaporkan status gizi.

“Sudah menyasar di 106 desa di Kabupaten Bolmut,” ungkapnya.

Sementara itu operator yang memegang aplikasi e-HDW Desa Bolangitang, Kecamatan Bolangitang Barat Deysi Olii mengatakan data yang diinput berdasarkan dusun.

“Jadi secara manual terlebih dahulu selanjutnya diisi dalam aplikasi tersebut,”ujarnya.

Ada beberapa pertanyaan yang harus diisi misalnya, apakah ada kegiatan Posyandu di tingkat dusun dalam sebulan terakhir.

“Bila tidak ada kegiatan Posyandu apakah dilakukan kunjungan dirumah,” ungkapnya.

“Selanjutnya apakah balita di desa mengalami kesulitan untuk mendapatkan imunisasi selama sebulan terakhir,” jelasnya.

Sosialisasi Aplikasi e-HDW. (Foto P3MD Bolmut)

Terpisah Koordinator Kabupaten P3MD Bolmut Resty Manangin menuturkan saat ini sudah hampir sebagian desa yang telah menginput dalam aplikasi e-HDW.

“Dan kurang 16 desa yang belum terisi, karena masih ada kendala data manual. Dan data manual diisi setiap dusun sebelum diinput dalam aplikasi,” ungkapnya.

“Ada juga sebagian desa yang belum isi karena ada pergantian operator jadi masih direset user name dan password untuk registrasi ke aplikasi,” tuturnya.

Laporan ini sebelumnya sudah tayang di Klik24.id


Share!
Beri Donasi
Tak pernah percaya dengan sodoran angka statistik pemerintah, membuatnya terus mengobok-obok setiap klaim yang dipublikasi.
Back To Top