TELAAH: Hantu Corona Itu Bisa Dikendalikan, Meski Di Eropa Terus Meningkat

Share!

SELUSUR.ID – Orang-orang kalap. Mereka memborong masker. Ada pula yang menumpuk lemarinya dengan mie instan. Dimana-mana ada keresahan. Pemicunya soal kejujuran Presiden Joko Widodo: ada dua orang Indonesia positif terjangkit COVID 19.

COVID 19 itu nama resmi virus corona. Sesosok hantu yang tetiba dibicarakan semua orang di muka planet ini. Menjadi sorotan saat akhir tahun 2019 lalu, otoritas kesehatan China mengumumkan telah mengkonfirmasi temuan virus baru.

Awalnya orang berpikir itu urusan China saja. Tetapi setelah Pemerintah China mengisolasi beberapa kota mereka, termasuk Wuhan, asal muasal wabah dari satwa liar ini, baru sorotan perhatian diarahkan pada negara komunis itu.

Indonesia, ya seperti biasa, di tengah negara lain mencoba mengambil langkah penting, warga negara +62 ini malah enak-enak bermain dengan segala meme. Badan kesehatan dunia, WHO sempat curiga, jangan-jangan otoritas kesehatan Indonesia tak mampu mendeteksi keberadaan virus corona.

Kita bukannya waspada mempersiapkan segala hal, dan meningkatkan pemeriksaan di pintu-pintu masuk dari luar negeri, malah mengambil kebijakan bujuk rayu orang-orang bepergian dengan program intensif sektor pariwisata.

Hingga kemudian dua warga Depok itu bikin geger negara ini. Kepanikan, keresahan serta kegelisahan menyeruak dimana-mana. Media ikut-ikutan memanasi, meski banyak pula yang mengedukasi.

Image ini diambil dari Facebook Raizo Izzin.

Pun demikian, saat salah satu pasien yang baru pulang umroh dibawa ke Rumah Sakit Kinapit Kotamobagu, media langsung memvonisnya sebagai pasien suspect corona. Padahal mungkin saja dia sedang kelelahan dari perjalanan sangat jauh itu. Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kotamobagu.

Mengapa panik?

Kita memang begitu. Apa-apa langsung disambar. Tombol share di media sosial menjadi hal pertama yang ditekan agar terlihat kekinian. Tak perlu baca isi berita dan konten, pokoknya lihat foto dan baca judul saja cukup. Share. Peduli amat mungkin isi kontennya bicara lain.

Sialnya, banyak media juga yang mengambil keuntungan dari perilaku asal share itu, dan sengaja mempabrikasi judul bombastis demi clicbait.

Padahal jika kita cermat, mengamati data yang saban saat diupdate, momok menakutkan hantu corona itu menunjukkan trend penurunan. Beberapa sajian visualisasi data disajikan secara real time, misalnya pada website yang dikelola Johns Hopkins Center for Systems Science and Engineering.

Di China daratan, tempat bermula semua persoalan ini, trend-nya menurun jauh, meskin di Eropa perkaranya jadi lain. Mencoba menganalisis data pergerakan wabah yang sudah menjadi perkara global ini, Selusur.id membaca data yang disajikan European Center for Disease Prevention and Control.

Mengapa data dari website ini yang jadi acuan? Alasannya sederhana, sajian visualisasi di website itu bisa dikustomisasi.

China menurun, Eropa naik

Di China (termasuk Hong Kong dan Macau) dalam tiga minggu terakhir orang positif terjangkit terus menurun. Pada minggu ke-8/2020, jumlah yang terjangkit sebanyak 9.810 orang, menurun pada minggu ke-9/2020 menjadi 2.986 orang dan minggu ke-10/2020 atau hingga data per 5 Maret 2020 pukul 09.00 GMT hanya 1.142 kasus baru.

Jumlah Kasus per Minggu di Daratan China – (Grafik dicapture dari European Centre for Disease Prevention and Control yang diakses pada Kamis, 5 Maret,pukul 16.00 WITA)

Sejak COVID 19 merebak dari Wuhan, lonjakan orang positif terjangkit di China terbanyak terjadi pada minggu ke-7/2020 yakni sebanyak 31.934 orang.

Total kasus di daratan China, termasuk di Hongkong dan Macau sejak 31 Desember 2019 tercatat total ada 80.524 atau 84 persen dari total secara global yang sebanyak 95.342 pasien positif.

Di Eropa, Amerika dan Inggris kasus baru terus meningkat, jika pada minggu ke-8/2020 hanya ada 15 orang yang positif terjangkit, melonjak tajam menjadi 1.044 orang pada minggu ke-09/2020, dan naik dengan sangat drastis sebesar 300% pada minggu ke-10/2020 menjadi 3.095 orang terjangkit.

Jumlah Kasus Per Minggu di Eropa (Grafik dicapture dari European Centre for Disease Prevention and Control yang diakses pada Kamis, 5 Maret,pukul 16.00 WITA)

Sementara untuk kematian di wilayah ini menjadi 89 orang pada minggu ke-10/2020 dari hanya 22 orang yang meninggal ada minggu sebelumnya.

Secara global juga terjadi penurunan kasus. Lonjakan terbesar pada minggu ke-7/2020 yang sebanyak 32.170 orang terjangkit, lalu turun sepertiganya menjadi 10.701 pada minggu ke-8/2020, dan terus turun menjadi 7.399 kasus pada minggu ke-9/2020. Meski pada minggu ke-10/2020 terjadi lagi kenaikan kasus menjadi 10.112 orang yang positif terjangkit.

Jumlah Kasus Per Minggu Secara Global (Grafik dicapture dari European Centre for Disease Prevention and Control yang diakses pada Kamis, 5 Maret,pukul 16.00 WITA)

Kasus kematian hingga 5 Maret secara global ada sebanyak 3.282 orang. Sementara kematian di daratan China (termasuk Hong Kong dan Macau) terus menurun pada dua minggu terakhir. Jika pada minggu ke-9/2020 ada 490 kematian, menjadi 146 kematian pada minggu ke-10/2020.

Jumlah Kematian per Minggu Di China Daratan (Grafik dicapture dari European Centre for Disease Prevention and Control yang diakses pada Kamis, 5 Maret,pukul 16.00 WITA)

Jumlah kematian akibat virus ini juga secara global menunjukkan trend yang menurun, yakni 361 kematian pada minggu ke-10/2020, dari sebelumnya 562 kematian pada minggu ke-9/2020 dan 832 orang meninggal pada minggu ke-8/2020.

Jumlah Kematian per Minggu Secara Global (Grafik dicapture dari European Centre for Disease Prevention and Control yang diakses pada Kamis, 5 Maret,pukul 16.00 WITA)

Apa yang menyebabkan kasus di China menurun drastis? Langkah pemerintah China yang tidak banyak omong tetapi langsung bergerak dalam satu komando menjadi kuncinya.

Lihat saja bagaimana mereka tidak perlu berpikir panjang untuk segera menutup lalu lintas masuk keluar warga di kota-kota yang terjangkit. Rumah sakit khusus pasien corona pun hanya dibangun dalam waktu 10 hari. Seperti sulap saja.

Solidaritas sesama warga China juga saling menguatkan. Mereka bahu-membahu memberi dukungan moril agar yang sakit mendapat motivasi untuk sembuh.

Sementara kita, malah cari-cari bahan apa yang bisa menambah keriuhan ini. Bahkan soal makan babi pun dijadikan kambing hitam. Begitulah Indonesia.

Jangan panik, meski tetap waspada.

Keterangan foto utama: Ambulance dari RS Kinapit Kotamobagu yang membawa pasien rujukan ke RS Prof Kandou Manado, Rabu, 4/3/2020. (Foto: Suhandri Lariwu)


Share!
Beri Donasi
Pemulung informasi yang menyukai fotografi. Kesana-kemari demi menyembuhkan diri.
Back To Top